ShoutMix chat widget

Pengunjung Blog
Komentar terakhir
  • akbar: KLO ANGGUR YG WARNANYA UNGU KHASIATNYA APA?
  • armouris: lagi info tentang gigi kuning di SIHAT SELALU – Gigi Kuning
  • Suhandi: Teryata untuk awet muda nggak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah, terimakasih atas...
  • armouris: lagi info tentang kentut di SIHAT SELALU – Soal Jawab Tentang Kentut
  • profesor: saya suka makan sirsak terutama saat susah buang air besar

 Powered by Max Banner Ads 

 Powered by Max Banner Ads 

Tak Selamanya Insulin Efektif untuk Diabetes

insulinBagi penderita diabetes, menjaga kadar gula agar tetap normal bukanlah perkara mudah. Namun penurunan drastis juga bisa membahayakan. Penurunan kadar gula berlebihan sama berbahayanya dengan membiarkan dalam kondisi tinggi.

Pada dasarnya, diabetes merupakan penyakit, yang tubuh penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya.

“Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot-otot dan jaringan lain untuk memasok energi.

Diabetes merupakan gangguan metabolisme dari distribusi gula oleh tubuh,” ungkap Agus Sudiro Waspodo, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Asri, Jakarta.

Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadilah kelebihan gula dalam darah.

Nah, kelebihan gula yang kronis dalam darah (hiperglikemia) ini menjadi racun bagi tubuh. Urine penderita diabetes yang mengandung gula dalam kadar tinggi tersebut menarik bagi semut, karena itulah gejala ini disebut juga gejala kencing manis.

Dalam kasus normal, setiap orang membutuhkan glukosa atau zat gula untuk kesehatan, karena organ vital manusia membutuhkannya sebagai sumber energi, yang selanjutnya dibakar oleh oksigen.

Pasokan gula dan oksigen juga sangat dibutuhkan oleh otak manusia agar bisa bekerja dengan baik. Agus mengungkapkan ada beberapa tipe diabetes, salah satunya tipe satu yang bergantung pada asupan insulin.

Penderita harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari sepanjang hidupnya, sehingga dikenal dengan istilah insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM) atau diabetes melitus yang bergantung pada insulin untuk mengatur metabolisme gula dalam darah.

Dari kondisinya, inilah jenis diabetes paling parah. Diabetes tipe satu biasanya ditemukan pada penderita yang mengalami gangguan sejak masa kanak-kanak atau remaja.

Namun separo dari penderita yang mengidap diabetes tipe ini adalah usia dewasa. Sedangkan diabetes tipe dua merupakan tipe yang tidak bergantung pada insulin.

Diabetes ini terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan pengiriman gula ke sel tubuh.

Diabetes ini merupakan tipe yang paling sering dijumpai. Juga sering disebut sebagai diabetes yang dimulai pada masa dewasa, atau dikenal dengan NIDDM (non-insulin dependent diabetes mellitus).

Jenis kedua ini mewakili sekitar 90 persen dari seluruh kasus diabetes, karena umumnya empat hingga lima penderitanya memiliki kelebihan berat badan.

Karena itu, obesitas juga kerap dijadikan sebagai indikator bagi penderita diabetes. Diabetes tipe dua dapat menurun dari orang tua yang penderita diabetes. Tetapi risiko terkena penyakit ini akan semakin tinggi jika memiliki kelebihan berat badan.

Faktor penyebab lain ialah pola makan yang salah, proses penuaan, dan stres yang mengakibatkan terjadinya resistensi insulin.

Juga mungkin terjadi karena salah gizi (malnutrisi) selama masa kehamilan, masa kanak-kanak, dan pada usia dewasa.

Lebih Berisiko Dalam penelitian terbaru yang dilakukan di London, Inggris, ditemukan 50 persen dari penderita diabetes tipe dua yang menggunakan insulin sebagai salah satu upaya untuk menurunkan kadar gulanya, kemungkinan besar lebih berisiko dibandingkan mereka yang menggunakan kombinasi obat oral, seperti metformin dan sulphonylurea.

Sebuah studi yang dipublikasikan The Lancet, sebuah jurnal medis, ditemukan kasus tersebut lebih dimungkinkan karena para penderita diabetes tipe dua yang membutuhkan insulin kemungkinan besar berusia lanjut dan dalam keadaan cukup parah saat mulai menggunakannya. Insulin juga diperkirakan dapat meningkatkan risiko pada beberapa penderita diabetes tipe dua.

Setelah penelitian lebih mendalam, para peneliti menyarankan agar penderita diabetes yang sensitif dengan insulin sebaiknya tetap menggunakan obat oral dikombinasikan dengan diet dan olah raga. Perpaduan tersebut diyakini sebagai cara paling aman dalam mengontrol gula darah bagi penderita diabetes tipe dua.

Selain itu, menurut para peneliti, dokter juga disarankan untuk tetap memberikan semangat kepada pasien selama menjalani perawatan. “Pada umumnya, penderita selalu disarankan untuk menurunkan kadar gula darah serendah mungkin.

Ini akan menjadi hal yang mengejutkan karena dengan menurunkan kadar gula terlalu drastis, justru jauh lebih berisiko. Penemuan ini tentu akan mengagetkan,” ungkap Craig Currie, ilmuwan dari Sekolah Medis Cardiff .

Currie menambahkan penemuan terhadap pemakaian insulin tersebut sebaiknya tidak mendorong sebuah tindakan yang tergesa-gesa dari para penderita.

Mereka justru harus tetap mengontrol gula darahnya secara rutin dan bertemu dengan dokternya untuk membahas cara terbaik untuk mengatasinya.

Selain itu, para peneliti juga menyarankan agar dokter memberikan batasan aman, terkait kadar gula terendah dan tertinggi yang tepat bagi pasiennya.

Risiko kematian bagi penderita yang melakukan pengobatan dengan insulin, menurut penelitian, 49 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang diberikan pengobatan secara oral.

Dalam hasil penelitian itu juga disebutkan adanya sebuah kemungkinan yang berkaitan antara penggunaan insulin dengan munculnya kanker.

Dan kini, diabetes sudah menjadi masalah kesehatan dunia yang amat serius. Diabetes kini menempati urutan keempat dari lima penyebab kematian tertinggi di dunia. Diperkirakan sekitar 180 juta orang di seluruh dunia mengidapnya.

Mereka yang memiliki berat badan di atas rata-rata atau lebih dikenal dengan obesitas, jauh lebih berisiko terkena diabetes.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan dalam kurun waktu 15-20 tahun mendatang, jumlah penderita diabetes akan meningkat sampai dua kali lipat.

Yang lebih mengkhawatirkan, setengah populasi orang dewasa di negara-negara berkembang diperkirakan menderita diabetes.
mer/L-3

koran-jakarta.com

Related posts:

  1. Diabetes & Hipertensi, Wanita Lebih Beresiko
  2. Diabetes, Kuncinya Kendalikan Faktor Risiko
  3. Menahan Ledakan Pengidap Diabetes

Leave a Reply